Varian Baru Covid-19 Cicada Muncul, Menyebar ke Sejumlah Negara
Share
PENUTUR.COM — Varian baru virus Covid-19 dengan kode BA.3.2 atau yang dikenal sebagai varian ‘Cicada’ dilaporkan mulai merebak di sejumlah kota di Amerika Serikat.
Kemunculan varian ini memicu perhatian karena memiliki karakteristik gejala yang serupa dengan varian Omicron.
Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan bahwa BA.3.2 sebenarnya bukan merupakan varian yang benar-benar baru, melainkan turunan dari keluarga Omicron.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, varian ini sejatinya telah muncul sejak tahun 2024 namun belum mendominasi saat itu.
Penyebaran secara global baru mulai terlihat signifikan pada akhir tahun 2025.
Menurut Dicky, virus ini sebelumnya berada pada level rendah yang sulit terdeteksi sebelum akhirnya mengalami pergeseran epidemiologi.
Saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memasukkan varian Cicada ke dalam kategori varian dalam pengawasan atau under monitoring.
Langkah ini diambil guna mengklarifikasi potensi bahaya yang mungkin ditimbulkan bagi kesehatan publik.
“Sudah terdeteksi di 23 negara, dan WHO masih mengklarifikasi varian ini under monitoring, sehingga belum terbukti berbahaya, tetapi memiliki potensi epidemiologi yang signifikan,” kata Dicky dalam keterangannya pada Rabu (1/4).
Varian ini diketahui memiliki kemampuan unik dalam menghindari antibodi yang dihasilkan oleh vaksin.
Selain itu, terdapat indikasi adanya peningkatan kemampuan transmisi atau penularan di tengah masyarakat.
Dicky Budiman menyebutkan bahwa varian ini lebih bersifat “licin” secara imunologis dibandingkan mematikan.
Hingga saat ini, data menunjukkan belum ada lonjakan angka kematian atau fatality rate yang disebabkan secara langsung oleh BA.3.2.
Gejala klinis yang dialami pasien varian Cicada identik dengan gejala Omicron pada umumnya.
Pasien biasanya mengeluhkan nyeri tenggorokan, demam, batuk kering, serta rasa lelah yang berlebihan.
Untuk situasi di Indonesia, masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan meskipun dampaknya diprediksi tidak akan seburuk fase pandemi beberapa tahun silam.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya faktor kelelahan sistem imun yang patut diwaspadai.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok rentan, individu dengan penyakit penyerta atau komorbid, orang dengan gangguan imunitas, serta ibu hamil.


