Alami Tekanan Finansial Berkepanjangan, Spirit Airlines Resmi Hentikan Operasi
Share
PENUTUR.COM — Maskapai penerbangan berbiaya rendah asal Amerika Serikat, Spirit Airlines, resmi menghentikan seluruh operasionalnya pada Minggu (3/5) setelah berkiprah selama 34 tahun di industri aviasi.
Penutupan ini dilakukan menyusul tekanan keuangan berkepanjangan dan krisis likuiditas yang melanda perusahaan.
Penerbangan terakhir maskapai tersebut dilaporkan bertolak dari Detroit menuju Dallas sebagai penanda berakhirnya era pelopor model penerbangan murah global.
Penghentian layanan ini terjadi setelah perusahaan sempat mengajukan kebangkrutan sebanyak dua kali dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
Dilansir dari Money, langkah drastis ini dipicu oleh pembengkakan kerugian finansial yang mencapai lebih dari 2,5 miliar dollar AS sejak tahun 2020.
Kondisi tersebut diperburuk oleh lonjakan harga bahan bakar jet sebagai dampak dari konflik Iran yang mengganggu stabilitas biaya operasional.
CEO Spirit Airlines, Dave Davis, menjelaskan bahwa maskapai telah berupaya keras memberikan akses perjalanan terjangkau bagi masyarakat selama tiga dekade terakhir.
Namun, ia mengakui bahwa berbagai upaya penyelamatan yang telah dilakukan tetap tidak mampu menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.
“Ini sangat mengecewakan dan bukan hasil yang diinginkan oleh siapa pun dari kami,” ujar Davis dalam pernyataan resmi.
Sebelum memutuskan berhenti beroperasi, pihak manajemen sebenarnya telah mencoba melakukan efisiensi dengan memangkas rute penerbangan dan menekan biaya tenaga kerja.
Perusahaan bahkan sempat menjajaki peluang pendanaan baru dari pemerintah Amerika Serikat demi menjaga keberlangsungan bisnis.
Spirit Airlines yang memulai bisnis sebagai Charter One Airlines pada awal 1980-an dikenal melalui konsep tarif dasar murah dengan biaya tambahan terpisah untuk layanan bagasi dan kursi.
Meski sering menuai kritik, model bisnis ini sempat menjadi tren yang diikuti oleh banyak maskapai besar lainnya.
Keputusan penutupan ini berdampak langsung pada pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 17.000 karyawan.
Pada hari terakhir operasinya, perusahaan masih melayani lebih dari 50.000 penumpang dan berusaha memulangkan 1.300 awak pesawat ke pangkalan asal mereka.
Krisis ini juga membuat para penumpang yang terdampak harus mencari alternatif transportasi udara lainnya di tengah keterbatasan pilihan tarif murah.
Persaingan ketat dari maskapai lain yang mengadopsi model serupa turut menjadi faktor yang menggerus pangsa pasar Spirit hingga akhirnya gulung tikar.


