Situasi Memanas, Tambah Armada Militer di Timur Tengah Gempur Iran
Share
PENUTUR.COM — Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas.
Di tengah situasi tersebut, AS dilaporkan telah menghimpun kekuatan militer besar di kawasan Timur Tengah.
Mengutip laporan Financial Times, Amerika Serikat mengerahkan sedikitnya 16 kapal perang dengan total sekitar 40.000 personel militer.
Selain itu, terdapat tujuh skuadron udara yang masing-masing terdiri dari sekitar 70 pesawat tempur.
Penempatan kekuatan militer AS itu tersebar di sejumlah pangkalan strategis di kawasan Teluk dan sekitarnya.
Lima skuadron udara dilaporkan telah ditempatkan di pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Sementara itu, dua skuadron udara tambahan berbasis di kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford, demikian tulis Financial Times.
Kehadiran kapal induk tersebut memperkuat proyeksi militer AS di kawasan yang selama ini menjadi titik panas geopolitik global.
Berdasarkan data dari Universitas Tel Aviv yang dikutip Financial Times, di Pangkalan Militer Muwaffaq Salti, Yordania, terdapat sekitar 66 jet tempur AS.
Armada tersebut terdiri atas 18 jet tempur F-35, 17 jet tempur F-15, delapan unit pesawat A-10, pesawat peperangan elektronik EA-18, serta pesawat pengangkut militer.
Data citra satelit juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah jet tempur Amerika Serikat di pangkalan militernya di Arab Saudi.
Hal ini mengindikasikan eskalasi kesiapsiagaan militer AS di tengah ketegangan dengan Iran.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan, sebuah “armada besar” tengah berlayar ke Iran, sembari mengharapkan Iran setuju merundingkan kesepakatan yang adil dan mencakup penghapusan total senjata nuklir.
Pada sisi lain, pada 8 Februari 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, Iran harus tetap memiliki haknya memperkaya uranium, bahkan jika hal tersebut harus berujung pada perang.
Perkembangan ini menambah daftar panjang dinamika konflik geopolitik antara AS dan Iran, terutama terkait isu program nuklir Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Situasi ini terus menjadi perhatian dunia internasional karena berpotensi memengaruhi keamanan regional, harga minyak global, serta stabilitas politik di kawasan Teluk.


