Mengenal Tradisi Punggahan Jepang Bulan Suci Ramadhan
Share
PENUTUR.COM — Menjelang bulan suci Ramadhan, umat Muslim di Indonesia memiliki tradisi punggahan, atau yang juga dikenal sebagai munggahan.
Tradisi ini sarat akan nilai religius dan sosial sebagai bagian dari budaya Islam Nusantara dalam menyambut bulan penuh ampunan.
Menurut Nahdlatul Ulama, punggahan biasanya dilaksanakan sekitar satu minggu sebelum Ramadhan.
Kegiatan ini melambangkan kesiapan lahir dan batin umat Islam dalam menyambut bulan puasa.
Punggahan bukan sekadar makan bersama, tetapi juga momen berkumpul dengan keluarga, tetangga, atau masyarakat sekitar.
Esensinya adalah ungkapan syukur karena masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan, momentum istimewa untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak amal, serta memperbaiki diri.
Tradisi ini mencerminkan kegembiraan dalam menyambut Ramadhan, yang dianjurkan dalam Islam.
Kegembiraan ini menjadi tanda kesiapan spiritual untuk menjalankan ibadah puasa dan memperkuat keimanan.
Punggahan juga menjadi sarana introspeksi diri. Melalui pertemuan dengan keluarga dan masyarakat, umat Islam saling memaafkan agar dapat memasuki Ramadhan dengan hati yang bersih dan ikhlas.
Di tengah kesibukan sehari-hari, punggahan menghadirkan momen berharga untuk mempererat hubungan sosial.
Kebersamaan yang terjalin memperkuat rasa persaudaraan dan solidaritas antarwarga, membuktikan bahwa tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga media memperkokoh hubungan sosial.
Hingga saat ini, punggahan tetap dipraktikkan di berbagai daerah di Indonesia, menunjukkan harmonisasi antara ajaran Islam dan kearifan lokal yang tumbuh di tengah masyarakat.
Melalui punggahan, umat Islam tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual menjelang Ramadhan, tetapi juga membangun kebersamaan dan memperkuat ikatan sosial.


