Beda Alasan, Putin dan Xi Jinping Tak Hadiri KTT BRICS di Rio de Janeiro
Share
PENUTUR.COM — Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping tidak menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Rio de Janero karena alasan yang berbeda.
Putin dan Jinping adalah dua tokoh utama pendiri aliansi BRICS namun berhalangan datang ke KTT yang dibuka Minggi ini dan berakhir besok.
Putin dikabarkan akan berpartisipasi dalam KTT secara virtual. Delegasi Ruisia yang datang ke KTT ini dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov.
Sementara itu Xi Jinping juga dikabarkan tidak hadir untuk pertama kali dalam KTT BRICS. Menurut laporan, Jinping telah memberitahu ketaidakhadirannya karena alasan jadwal kegiatannya yang bersamaan waktunya. Delegasi China dalam KTT ini dipimpin oleh Perdana Menteri Li Qiang.
Selain kedua tokoh utama dalam BRICS tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga dilaporkan tidak akan hadir dalam pertemuan puncak ini.
Sementara itu, beberapa tokoh penting yang dipastikan hadir antara lain Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, serta Presiden Indonesia Prabowo Subianto.
Pertemuan dua hari ini dipimpin oleh Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, dengan agenda utama mencakup perdagangan dan investasi, kerja sama keuangan, kecerdasan buatan (AI) dan tekbologi, kesehatan global dan aksi iklim.
BRICS berupaya meningkatkan kerja sama antar negara-negara Global Selatan dengan menciptakan sistem keuangan alternatif, mengurangi ketergantungan terhadap dolar, serta meningkatkan representasi yang lebih besar di lembaga-lembaga global.
Dengan tema tahun ini “Strengthening Global South Cooperation for More Inclusive and Sustainable Governance,” negara-negara BRICS akan membahas berbagai topik.
Brasil disebut-sebut akan berfokus pada enam topik utama, yakni kerja sama kesehatan global, perdagangan, investasi dan keuangan, perubahan iklim.
Brasil juga akan menekankan kecerdasan buatan, tata kelola, keamanan multilateral dan arsitektur perdamaian, serta pengembangan kelembagaan.


