Avtur Naik Hingga 73 Persen, Harga Tiket Pesawat Domestik Diprediksi Bakal Melonjak
Share
PENUTUR.COM — Kenaikan tajam harga bahan bakar pesawat (avtur) mengguncang sektor transportasi udara nasional.
PT Pertamina (Persero) resmi melakukan penyesuaian harga avtur untuk seluruh maskapai domestik selama periode 1–30 April 2026, dengan lonjakan yang dinilai sangat signifikan.
Berdasarkan data resmi MyPertamina, harga avtur naik rata-rata hingga Rp9.895 per liter.
Secara persentase, kenaikan ini berada di kisaran 64 hingga 73 persen dibandingkan harga pada Maret 2026—sebuah lonjakan yang langsung menekan biaya operasional maskapai.
Kenaikan harga avtur terjadi merata di berbagai bandara besar di Indonesia.
Di Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, harga melonjak dari Rp13.656 menjadi Rp23.551 per liter, atau naik sekitar 72,5 persen.
Sementara itu, di Bandara Adi Sumarmo dan Bandara Adisutjipto, harga naik dari Rp15.448 menjadi Rp25.343 per liter, atau sekitar 64 persen.
Kondisi serupa juga terjadi di Bandara Halim Perdanakusuma yang kini mencapai Rp24.775 per liter, serta Bandara I Gusti Ngurah Rai yang menyentuh Rp25.343 per liter.
Kenaikan tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Di Bandara Kualanamu, harga avtur kini mencapai Rp24.819 per liter.
Sementara di kawasan timur Indonesia, lonjakan bahkan lebih tinggi. Di Bandara Domine Eduard Osok, harga menyentuh Rp25.521 per liter.
Bahkan, di sejumlah bandara seperti Ambon, Manado, dan Halmahera, harga tercatat mencapai Rp25.632 per liter—menjadi salah satu yang tertinggi secara nasional.
Lonjakan harga avtur ini berpotensi langsung dirasakan masyarakat.
Dalam industri penerbangan, biaya bahan bakar merupakan komponen terbesar dalam struktur biaya operasional maskapai.
Kenaikan signifikan di kisaran Rp9.800 hingga Rp9.900 per liter membuka peluang terjadinya penyesuaian harga tiket pesawat atau penerapan fuel surcharge oleh maskapai.
Di tengah upaya pemulihan sektor pariwisata dan mobilitas pascapandemi, kondisi ini menjadi tantangan serius.
Maskapai dihadapkan pada dilema antara menjaga keberlanjutan operasional dan mempertahankan daya beli penumpang.
Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin harga tiket penerbangan domestik kembali melambung, sekaligus menekan laju pertumbuhan industri penerbangan nasional.


