Profil Maria Corina Machado, Aktivis Venezuela Peraih Nobel Perdamaian 2025
Share
PENUTUR.COM — Maria Corina Machado telah dianugerahi Nobel Perdamaian 2025. Machado menjadi ikon dalam perjuangan untuk demokrasi di Venezuela.
Di tengah semakin menekannya otoritarianisme, ia tetap teguh membela prinsip-prinsip kebebasan, hak asasi manusia, dan pemerintahan yang adil bagi rakyatnya.
Machado menempuh pendidikan di bidang teknik dan keuangan, serta memiliki pengalaman singkat di dunia bisnis sebelum beralih ke aktivitas sosial.
Pada tahun 1992, ia mendirikan Yayasan Atenea, yang berfokus pada membantu anak-anak jalanan di Caracas.
Sepuluh tahun setelah itu, ia ikut mendirikan Smate, sebuah organisasi yang berupaya menciptakan pemilu yang adil dan bebas di Venezuela.
Melalui Smate, Machado memainkan peran penting dalam pelatihan dan pengawasan proses pemilu, sebagaimana dikutip dari laman Nobelprize.org, Jumat (10/10).
Karir politiknya semakin bersinar setelah terpilih sebagai anggota Majelis Nasional Venezuela pada tahun 2010, mencatatkan rekor jumlah suara terbanyak.
Namun, empat tahun kemudian, rezim yang berkuasa mencopotnya dari jabatan tersebut. Meskipun demikian, Machado tidak menyerah dan terus berjuang melalui partai oposisi Vente Venezuela.
Pada tahun 2017, ia juga mendirikan aliansi Soy Venezuela, yang menyatukan kekuatan pro-demokrasi dari berbagai partai di negara itu. Pada tahun 2023, ia mengumumkan pencalonannya untuk pemilihan presiden 2024.
Namun, setelah dilarang untuk maju, ia memberikan dukungannya kepada kandidat oposisi Edmundo Gonzlez Urrutia. Oposisi berhasil menggalang dukungan luas dan mengumpulkan bukti kuat bahwa mereka memenangkan pemilu.
Meski demikian, rezim yang berkuasa tetap mengklaim kemenangan dan memperketat cengkeramannya terhadap kekuasaan.
Maria Corina Machado dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2025 atas keteguhan dan keberaniannya dalam memperjuangkan demokrasi di Venezuela.
Penghargaan ini tidak hanya mengakui peran pribadinya, tetapi juga mengingatkan kita bahwa demokrasi—hak untuk berbicara, memilih, dan diwakili secara sah—merupakan fondasi perdamaian, baik di dalam negeri maupun antarbangsa.


