Demo Berdarah Tewaskan 19 Orang, PM Nepal Umumkan Pengunduran Diri
Share
PENUTUR.COM — Perdana Menteri Nepal K.P. Sharma Oli resmi mengundurkan diri pada Selasa (9/9), hanya sehari setelah kerusuhan berdarah menewaskan sedikitnya 19 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya di ibu kota Kathmandu.
Gelombang unjuk rasa yang dipicu larangan media sosial itu kini berkembang menjadi perlawanan besar-besaran terhadap korupsi dan sikap pemerintah, meski otoritas telah memberlakukan jam malam tanpa batas waktu.
“Oli telah mundur,” kata ajudannya, Prakash Silwal, kepada Reuters.
Langkah tersebut langsung menjerumuskan Nepal ke dalam ketidakpastian politik baru, di tengah situasi ekonomi yang rapuh dan instabilitas yang berkepanjangan sejak penghapusan monarki pada 2008.
Sebelum mengumumkan pengunduran dirinya, Oli sempat menggelar pertemuan dengan seluruh partai politik.
Dalam kesempatan itu ia menegaskan bahwa kekerasan tidak akan membawa kebaikan bagi bangsa.
“Kita harus kembali ke jalur dialog damai untuk menemukan solusi atas setiap persoalan,” ujarnya.
Namun, seruan itu tidak menghentikan kemarahan massa. Ribuan demonstran tetap berkumpul di depan kompleks parlemen dan titik-titik lain di Kathmandu, menentang perintah jam malam.
Mereka membakar ban di jalan, melempari polisi dengan batu, hingga mengejar aparat bersenjata pentungan di gang-gang sempit.
Kerusuhan pada Senin lalu pecah setelah pemerintah melarang penggunaan 26 aplikasi media sosial dan layanan pesan instan.
Massa mencoba menyerbu parlemen, hingga aparat menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan kerumunan.
Amnesty International melaporkan penggunaan peluru tajam yang menyebabkan korban jiwa.
Akibat kebakaran dan kepulan asap di dekat bandara internasional Kathmandu, penerbangan dari sisi selatan terpaksa ditutup sementara.
“Kedatangan pesawat dari arah selatan ditangguhkan karena jarak pandang buruk akibat asap kebakaran di sekitar bandara,” kata pejabat otoritas penerbangan Gyanendra Bhul.


