LOADING

Ketik di sini

Peristiwa

Eks Menlu Malaysia Tegur Tito Karnavian yang Remehkan Bantuan Negaranya

Share

PENUTUR.COM — Eks Menteri Luar Negeri Malaysia, Tan Sri Rais Yatim, menegur Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian soal etika, tata bicara, hingga pentingnya menjaga hubungan baik antarnegara bertetangga.

Ia menyampaikan keprihatinannya atas pernyataan Mendagri Indonesia yang dinilai meremehkan nilai bantuan.

Menurutnya, sikap seperti itu tidak mencerminkan budi bahasa yang seharusnya dijunjung tinggi oleh negara serumpun.

“Kami menerima dengan dukacita reaksi Menteri Dalam Negeri rakan kita di seberang, yang diumumkan sebagai perkara kecil dan sumbangan yang tak berpatutan,” ujarnya dalam pernyataannya, dikutip dari Instagram pojoksatu.id.

Ia menegaskan bahwa persoalan bantuan tidak semestinya diukur dari besar kecil nominal.

Bahkan, bantuan dalam jumlah kecil sekalipun tetap harus dihargai sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas.

“Ini bukan soal berbudi bahasa sebenarnya. Apabila rakan atau jiran membantu, walau RM60 sekali pun, harus diucapkan terima kasih,” ucapnya.

Eks Menlu Malaysia itu juga menyinggung pernyataan yang disampaikan ke ruang publik internasional, yang menurutnya justru menimbulkan kesan kurang elok di mata dunia.

Ia menyayangkan narasi yang seolah-olah menilai bantuan sebesar 60.000 dolar AS sebagai sesuatu yang tidak berarti.

“Dengan kenyataan umum yang dibuat kepada dunia, seolah-olah Malaysia menyumbang sedikit. Ini menunjukkan masalah komunikasi dan bahasa,” katanya.

Lebih jauh, ia menyarankan agar pejabat yang bersangkutan kembali mempelajari cara berkomunikasi dengan negara tetangga.

Menurutnya, tata bahasa dan pilihan kata memiliki dampak besar dalam menjaga hubungan diplomatik.

“Menteri berkenaan harap bersekolah dulu dalam bentuk perkataan, komunikasi atau bahasa kepada sesuatu jiran,” sindirnya.

Ditambahkannya, persoalan ini dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu bangsa di kawasan Asia Tenggara.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki akar budaya yang sama, yang menekankan pentingnya adab, empati, dan rasa saling menghargai.

BACA JUGA  Pasca Gempa Dahsyat, Indonesia Kirim Personel USAR ke Myanmar

“Kita diajarkan petua-petua nenek moyang sebelum merdeka. Bila orang memberi, kita merasa. Bila orang merasa, kita pun bersukacita,” tuturnya.

Hingga kini, pernyataan eks Menlu Malaysia tersebut terus menjadi perbincangan, sekaligus menegaskan bahwa dalam diplomasi, kata-kata memiliki makna dan dampak yang tak bisa dianggap sepele.

 

Tags:

You Might also Like