Diplomasi dalam Ruang Sempit: Indonesia dalam Jebakan Board of Peace
Share
Melemahkan Peran Regional dan ASEAN
Bergabung dengan BOP berpotensi mengurangi pengaruh Indonesia di ASEAN, terutama dalam isu regional seperti proses perdamaian Myanmar, sengketa perbatasan Thailand-Kamboja, atau Laut China Selatan.
Sebagai negara “menengah” dengan keterbatasan diplomatik dan militer, Indonesia berisiko terlihat “terperangkap dalam orbit pribadi Trump” tanpa manfaat, yang mengabaikan prioritas Asia Tenggara demi agenda global AS-Israel yang kontroversial.
Sejauh ini, kecil kemungkinan Indonesia mundur dari BOP dalam waktu dekat.
Kementerian Luar Negeri Indonesia telah menyatakan bahwa Prabowo berencana hadir di pertemuan inaugural BOP pada 19 Februari 2026, di Washington, AS.
Kita akan segera melihat bagaimana Prabowo akan membawa Indonesia bermanuver dalam jebakan-jebakan BOP ini.
Berada dalam BOP ini situasi yang buruk bagi Indonesia. Jebakannya terlihat jelas sejak awal: struktur kekuasaan yang timpang, narasi yang bisa dibelokkan, dan risiko dijadikan stempel legitimasi bagi agenda yang lebih besar.
Namun di tengah impotensi PBB terhadap aksi genosida Israel dan hilangnya rasa kemanusiaan di Eropa, pilihan yang tersisa adalah ruang diplomasi yang sempit dan suram namun memberikan sedikit harapan bagi Indonesia untuk membantu Palestina.
Jika ingin bermain aman, Indonesia tetap akan memilih posisi seperti sebelumnya: berharap kepada PBB, ikut sidang-sidang tanpa hasil nyata, sembari sesekali mengecam dan mengutuk Israel.
Prabowo bukan tipe orang yang mencari aman.


