LOADING

Ketik di sini

Olahraga

Semua AI Pilih Prancis masuk Final Tapi Lawannya Belum Jelas, Argentina atau Norwegia

Share
Knockout Piala Dunia 2026

PENUTUR.COM – Piala Dunia 2026 baru memasuki babak sistem gugur, tapi turnamen ini sudah berhasil menumbangkan lebih banyak raksasa dibanding yang diperkirakan siapa pun sebelum bola pertama digulirkan. Jerman dan Belanda tersingkir lebih awal di Babak 32 Besar melalui adu penalti yang menyayat hati. Lalu, di salah satu kejutan terbesar sejarah turnamen ini, Brasil — favorit juara bagi banyak pengamat — harus angkat koper setelah dihajar Norwegia, dengan brace dari Erling Haaland yang membungkam Stadion New Jersey.

Di tengah kekacauan itu, dua nama justru tampil semakin meyakinkan: Prancis dan Argentina. Jika pola performa mereka bertahan hingga garis akhir, keduanya berpotensi bertemu di partai puncak pada 19 Juli mendatang. Namun sepak bola, terutama Piala Dunia, tidak pernah benar-benar bisa ditebak — dan dua kuda hitam, Norwegia dan Maroko, sudah membuktikan diri sanggup mengacak-acak skenario tim manapun.
Lihat bracket sistem gugur di sini.

Prancis: Mesin yang Tidak Menunjukkan Tanda Kelelahan

Ada alasan kuat mengapa Prancis pantas disebut sebagai tim paling lengkap di turnamen ini sejauh ini. Setelah melibas Swedia 3-0 di Babak 32 Besar, Les Bleus melanjutkan tren itu dengan menyingkirkan Paraguay di Babak 16 Besar — laga yang disebut sebagai ujian tersulit mereka sejauh ini, namun tetap mereka menangkan dengan cara yang meyakinkan.

Yang membuat Prancis berbeda dari kandidat juara lain adalah kedalaman skuadnya. Ketika tim-tim besar lain mulai menunjukkan celah — lini pertahanan yang goyah, ketergantungan pada satu pemain bintang — Prancis justru tampil sebagai kolektif yang solid dari lini belakang hingga depan. Ini akan menjadi kesempatan ketiga beruntun bagi mereka mencapai final Piala Dunia, sebuah pencapaian yang hanya sedikit negara pernah raih dalam sejarah modern turnamen ini.

BACA JUGA  Belanda Angkat Koper dari Ajang Piala Dunia 2026 Usai Kalah Adu Penalti Lawan Maroko

Jalur mereka menuju semifinal juga relatif menguntungkan. Dengan Jerman dan Belanda sudah tersingkir dari sisi bracket yang sama, Prancis punya ruang bernapas lebih lebar dibanding yang mereka duga sebelum turnamen dimulai — meski itu bukan berarti jalan mereka akan mulus, mengingat Maroko yang tangguh justru berada di sisi bracket yang sama.

Argentina: Juara Bertahan yang Diuntungkan oleh Kejatuhan Raksasa

Di belahan bracket yang lain, Argentina melangkah dengan cara yang berbeda — tidak selalu meyakinkan, tapi efektif. Kemenangan atas Cape Verde di Babak 32 Besar bukan penampilan paling dominan mereka, namun cukup untuk membawa mereka ke ronde berikutnya, di mana mereka akan menghadapi Mesir di Babak 16 Besar.

Keuntungan terbesar Argentina justru datang dari luar lapangan mereka sendiri: satu per satu rival berat di sisi bracket mereka berguguran. Brasil, rival abadi mereka di Amerika Selatan sekaligus salah satu favorit juara, sudah lebih dulu tersingkir. Jerman dan Belanda, dua kekuatan Eropa yang biasanya jadi batu sandungan di fase gugur, juga sudah pulang lebih cepat dari yang dibayangkan.

Bagi juara bertahan seperti Argentina, ini adalah skenario impian: jalur menuju final yang, di atas kertas, lebih lapang dibanding perkiraan pra-turnamen. Mentalitas juara dan pengalaman menjadi modal utama mereka — dua hal yang sulit diukur dengan statistik, tapi seringkali menjadi pembeda di partai-partai krusial fase gugur.

Bayang-Bayang Kontroversi: Tudingan Keberpihakan FIFA ke Argentina

Namun perjalanan mulus Argentina sejauh ini tidak lepas dari sorotan kritis, dan akan tidak adil bagi analisis ini untuk mengabaikannya. Sejak fase grup, langkah tim asuhan Lionel Scaloni diwarnai serangkaian keputusan wasit yang memicu protes dari berbagai pihak — cukup banyak untuk membuat sejumlah media mulai mempertanyakan konsistensi kepemimpinan wasit setiap kali Argentina bertanding.

BACA JUGA  Buntut Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus, KaBAIS Dicopot

Kontroversi pertama muncul sejak laga pembuka Grup J melawan Aljazair. Federasi sepak bola Aljazair secara resmi mengajukan keluhan kepada Komisi Wasit FIFA setelah insiden yang melibatkan kapten Argentina tidak dikenai sanksi kartu, sementara insiden serupa yang melibatkan pemain tim lain di pertandingan berbeda justru berujung kartu merah. Media Aljazair bahkan menyoroti rekam jejak wasit yang ditugaskan, yang sebelumnya juga memimpin final Piala Dunia edisi sebelumnya yang melibatkan Argentina.

Kontroversi berlanjut dan semakin ramai diperbincangkan pada babak 32 besar saat Argentina menghadapi Cape Verde. Setidaknya ada dua momen yang jadi sorotan: pertama, gol kemenangan Argentina di masa perpanjangan waktu yang tercipta setelah bola membentur tangan bek Cape Verde dan tercatat sebagai gol bunuh diri; kedua, penanganan wasit terhadap insiden pendarahan pemain Argentina yang menunda proses sepak pojok krusial bagi Cape Verde di saat mereka tengah unggul jumlah pemain. Sejumlah media — termasuk media berbahasa Portugis — secara eksplisit menyebut kepemimpinan wasit pada laga tersebut sebagai berat sebelah kepada Argentina, meski badan analisis independen menyatakan sebagian keputusan teknis tersebut sudah sesuai aturan yang berlaku.

Penting untuk dicatat: tidak ada bukti atau data resmi yang menunjukkan Argentina secara statistik menerima “penalti dengan kesalahan wasit terbanyak” dibanding tim lain di turnamen ini — klaim semacam itu lebih merupakan persepsi publik yang berkembang di media sosial dan sejumlah outlet berita, ketimbang temuan resmi dari badan analisis wasit independen. Yang bisa dipastikan adalah pola berulang: setiap kali muncul keputusan kontroversial yang menguntungkan Argentina, isu ini cepat membesar dan memicu tudingan keberpihakan — sebagian didorong oleh rekam jejak kontroversi wasit di edisi Piala Dunia sebelumnya, sebagian lagi oleh sorotan besar yang selalu menyertai tim sekaliber juara bertahan dengan pemain seperti Lionel Messi.

BACA JUGA  Kalahkan Kanada 3-0, Maroko Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Terlepas dari benar-tidaknya tudingan tersebut, kontroversi ini menambah tekanan ekstra bagi Argentina. Jika mereka benar-benar melaju ke final, bayang-bayang tudingan “dianakemaskan” berpotensi membayangi status juara mereka — sesuatu yang bisa saja mereka patahkan hanya dengan cara paling meyakinkan: bermain gemilang tanpa perlu bantuan keputusan kontroversial di sisa turnamen.

Tags: