Wabah Ebola di Kongo Telan 88 Korban Tewas, WHO Tetapkan Darurat Global
Share
PENUTUR.COM — Wabah Ebola strain Bundibugyo kembali mengguncang Republik Demokratik Kongo (DRC).
Hingga Minggu (17/5), CDC Afrika melaporkan sedikitnya 88 orang meninggal dunia di provinsi Ituri, wilayah timur Kongo.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status darurat kesehatan global atas wabah ini, meski belum dikategorikan sebagai pandemi.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius karena strain Bundibugyo belum memiliki vaksin dan tingkat kematiannya mencapai 50 persen.
Direktur Jenderal CDC Afrika, Dr Jean Kaseya, menyebut kasus pertama muncul di zona kesehatan Mongwalu, kawasan pertambangan dengan mobilitas tinggi.
“Kasus-kasus tersebut kemudian menyebar ke Rwampara dan Bunia karena pasien mencari perawatan medis, sehingga memungkinkan penyebaran di tiga zona kesehatan,” ujarnya dalam konferensi pers daring.
Menteri Kesehatan Kongo, Samuel-Roger Kamba, menegaskan wabah kali ini disebabkan oleh strain Bundibugyo.
“Strain Bundibugyo tidak memiliki vaksin, tidak ada pengobatan khusus. Tingkat kematiannya bisa mencapai 50 persen,” katanya.
Ia menambahkan kasus pertama diduga berasal dari seorang perawat yang meninggal di Bunia pada 24 April.
WHO menyatakan wabah ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).
Warga Bunia mengaku hidup dalam ketakutan.
Sementara itu, Uganda melaporkan satu kasus Ebola impor dari Kongo. Pasien meninggal di Rumah Sakit Muslim Kibuli, Kampala, pada 14 Mei.
Pemerintah Uganda memperketat pemeriksaan kesehatan di fasilitas medis, sementara Kenya menyebut risiko masuknya Ebola ke negaranya berada pada level moderat.
Kelompok bantuan medis Dokter Tanpa Batas (MSF) menyatakan sedang mempersiapkan respons skala besar.
Wabah Ebola kali ini tidak hanya menjadi masalah kesehatan di Kongo, tetapi juga ancaman regional bagi negara tetangga seperti Uganda, Sudan Selatan, dan Kenya.
Dengan 88 korban meninggal dan ratusan kasus suspek, wabah Ebola Bundibugyo di Kongo menjadi salah satu krisis kesehatan paling serius di Afrika tahun ini.
WHO, CDC Afrika, dan MSF kini memperingatkan bahwa tanpa vaksin dan pengobatan khusus, wabah berpotensi menyebar lebih luas.


