Foxconn Diserang Ransomware, Dara Apple dan Nvidia Diduga Bocor
Share
PENUTUR. COM — Raksasa manufaktur elektronik asal Taiwan, Foxconn, mengonfirmasi sistemnya menjadi sasaran serangan siber yang berdampak pada fasilitas produksi di Amerika Utara. Upgrade Transmisi TV
Foxconn dikenal sebagai produsen utama yang merakit berbagai perangkat untuk merek global seperti Apple, Google, Nvidia, hingga Sony.
Dalam pernyataan resminya pada Senin (11/5) waktu setempat, Foxconn mengakui adanya gangguan tersebut.
Namun, perusahaan memastikan aktivitas operasional tidak lumpuh total.
“Pabrik-pabrik yang terkena dampak saat ini sedang dalam proses melanjutkan produksi secara normal,” tulis pihak Foxconn dalam keterangan resminya.
Kelompok peretas bernama Nitrogen secara terbuka mengaku sebagai dalang atas serangan ini.
Melalui situs kebocoran data di dark web, kelompok tersebut memajang Foxconn sebagai korban terbaru mereka dalam upaya pemerasan.
Para peretas mengeklaim telah berhasil menggasak lebih dari 11 juta file.
Data yang dicuri disebut-sebut mencakup informasi rahasia milik pelanggan raksasa Foxconn, termasuk skema produk, panduan teknis, hingga laporan rekening bank milik perusahaan mitra seperti Apple, Dell, Google, Intel, dan Nvidia.
Sebagai bukti aksinya, geng Nitrogen telah mengunggah beberapa gambar hasil tangkapan layar yang menunjukkan dokumen skema produk dan data keuangan sebagai ancaman bagi Foxconn.
Kelompok Nitrogen dikenal menggunakan metode double extortion atau pemerasan ganda.
Dalam modus ini, peretas tidak hanya mengunci (mengenkripsi) file agar tidak bisa diakses oleh perusahaan korban, tetapi mereka juga mencuri data tersebut terlebih dahulu.
Strategi ini dilakukan agar mereka memiliki posisi tawar yang lebih kuat.
Jika perusahaan menolak membayar uang tebusan untuk membuka kunci file, para peretas akan mengancam untuk membocorkan data rahasia tersebut ke publik atau menjualnya ke pihak lain.
Hingga saat ini, Foxconn belum memberikan penjelasan lebih mendalam terkait rincian data yang hilang maupun besaran tebusan yang diminta oleh para peretas.
Kasus ini menambah panjang daftar serangan siber yang menyasar rantai pasok teknologi global.


