LOADING

Ketik di sini

Peristiwa

15 Fakta Penting Seputar Skandal Epstein

Share
Epstein, Trump, Musk, Rothschild

11
Media Mainstrem yang Menyesatkan

Media mainstream seperti BBC, CBS, Daily Mail, dan The Telegraph sering menonjolkan elemen Rusia (dan kadang China) dalam kasus Jeffrey Epstein, yang bisa dilihat sebagai upaya mengalihkan fokus dari jaringan elit Barat.

Salah satu judul di BBC: “Mandelson offered to help Epstein get Russian visa, documents suggest” — menekankan email Epstein meminta bantuan visa Rusia untuk bertemu wanita muda di Moskow, serta spekulasi “Could Jeffrey Epstein have been a Russian spy?” di podcast mereka.

Sementara jaringan CBS menampilkan: “Poland to probe possible link between Jeffrey Epstein and Russian intelligence” — melaporkan penyelidikan Polandia atas kemungkinan koneksi Epstein dengan intelijen Rusia, termasuk dugaan trafficking wanita Polandia terkait “satanic circle” Rusia.

Koran Daily Mail: “Epstein’s sex empire was ‘KGB honeytrap'” dan “Jeffrey Epstein helped Russian spies collect blackmail ‘kompromat’ on western elites for DECADES” — menggambarkan operasi Epstein sebagai jebakan KGB untuk mengumpul kompromat, dengan Putin disebut berkali-kali dalam file.

Koran The Telegraph: “Epstein links to Putin and FSB raise fears he was a Russian agent” serta “Epstein was probably a Russian spy, says Tusk” — menyoroti ketakutan Epstein sebagai agen Rusia, termasuk tawaran wanita Rusia kepada Prince Andrew.

Fakta bahwa media Barat dikuasai Yahudi sehingga mereka pro-Zionis adalah hal yang tidak terbantahkan.

Kritik terhadap media mainstream (MSM) seperti CNN, BBC, New York Times, dan Washington Post sering kali menyoroti dugaan bias pro-Israel atau pro-Zionis dalam peliputan konflik Israel-Palestina, terutama selama aneksasi Gaza 2023–2024.

Para kritikus, termasuk jurnalis internal dan organisasi seperti Amnesty International, menuduh MSM menerapkan standar ganda: lebih sering menggunakan bahasa emosional untuk menggambarkan korban Israel (seperti “terbunuh secara brutal”) dibandingkan korban Palestina (disebut “tewas” atau “menurut sumber Palestina”), serta jarang memberikan konteks historis seperti pendudukan atau hak asasi manusia Palestina.

BACA JUGA  Komite HAM PBB Soroti Putusan Mahkamah Konstitusi Terkait Pencalonan Gibran

Misalnya, memo internal NYT dilaporkan membatasi penggunaan istilah seperti “genocide”, “ethnic cleansing”, atau “refugee camps” untuk menghindari narasi pro-Palestina, sementara liputan lebih fokus pada perspektif Israel dan mengamplifikasi klaim pemerintah Israel tanpa verifikasi ketat.

Simak meme yang mengkritik media Barat: ketika banyak fakta menunjukkan adanya keterlibatan Yahudi, media tetap berkesimpulan dalangnya adalah Russia.

12
Ada Indonesia di Dokumen Esptein

Dokumen Epstein juga mengungkap koneksi tak terduga ke Indonesia melalui nama Hary Tanoesoedibyo.

Miliarder ini muncul dalam memo FBI yang menggambarkannya sebagai mitra bisnis Donald Trump dalam pengembangan properti Trump di Indonesia.

Yang lebih menarik, dokumen menyebut Tanoe memperkenalkan Trump kepada “Indonesian CIA” — kemungkinan merujuk pada BIN — dalam konteks diskusi tentang kontrak militer Pentagon.

Meski tidak ada tuduhan kriminal langsung, ini menunjukkan bagaimana jaringan Epstein menjangkau elite bisnis Asia dalam pola hubungan yang kompleks antara uang, politik, dan intelijen.

13
Ada Pengusaha Uni Emirat Arab dan India

Nama Sultan Ahmed bin Sulayem, Chairman DP World, muncul lebih dari 4.000 kali dalam dokumen Epstein.

Pria kelahiran 1955 ini adalah pengusaha Emirati terkemuka dari Dubai. Ia menjabat sebagai Group Chairman dan CEO DP World (perusahaan logistik dan pelabuhan global milik pemerintah Dubai), serta Chairman Ports, Customs & Free Zone Corporation.

Hubungan mereka digambarkan sebagai persahabatan pribadi yang erat sejak awal 2000-an.

Ia tersangkut lobi ke Peter Mandelson untuk pinjaman £1.8 miliar dalam bisnis pelabuhan Inggris, berkenalan dengan ke Elon Musk pada 2015, investasi teknologi surveilans/Israel via backchannel sebelum Abraham Accords.

Ia juga berdiskusi soal aset Libya pasca-Gaddafi (menggunakan eks-MI6/Mossad), bantuan pengaturan pelatihan “Russian masseuse” di Turki, dan koneksi geopolitik (Israel-UAE, Somaliland).

BACA JUGA  Hadiah Nobel Perdamaian: Topeng Politik Barat Menipu Dunia

Meski tidak ada bukti keterlibatan kriminal, hubungan dekat ini mempertanyakan bagaimana seorang sex offender terdaftar tetap diterima di lingkaran elite bisnis global.

Anil Ambani adalah pengusaha India terkemuka, ketua dan direktur pelaksana Reliance Group (juga dikenal sebagai Reliance ADA Group), yang berfokus pada sektor infrastruktur, energi, keuangan, dan hiburan, juga muncul di dokumen Esptein.

Ia adalah adik dari Mukesh Ambani, orang terkaya di Asia, dan pernah memimpin perusahaan seperti Reliance Capital, Reliance Infrastructure, dan Reliance Communications setelah pemisahan dari Reliance Industries milik ayahnya, Dhirubhai Ambani.

Dalam dokumen Epstein yang baru dirilis, Ambani disebutkan dalam pertukaran pesan dengan Epstein antara 2017-2019, di mana Epstein menawarkan “tall Swedish blonde woman” untuk membuat kunjungan menyenangkan, dan Ambani langsung menjawab “arrange that”, meskipun konteksnya menunjukkan pembicaraan santai tentang wanita.

Tags: