15 Fakta Penting Seputar Skandal Epstein
Share
8
Peter Mandelson—Skandal di Jantung Kekuasaan Inggris
Kasus Peter Mandelson mungkin yang paling telanjang menunjukkan bahwa Epstein menggunakan seks untuk mendapatkan akses dan informasi.
Politisi Partai Buruh Inggris ini: Menerima $75.000 dari Epstein 2003-2004 dan membocorkan informasi rahasia bailout €500 miliar pada 2009.
Mandelson tetap berkorespondensi saat Epstein di penjara: “My best pal in jail, what a world!”. Yang paling memalukan: terkuak foto Mandelson di apartemen Epstein hanya mengenakan pakaian dalam dengan wanita tak dikenal.
The Guardian menyebutnya: “The ultimate portrait of power corrupted.”
Dokumen DOJ menunjukkan Mandelson — yang pernah menjabat sebagai Menteri Bisnis — diduga membocorkan informasi rahasia pemerintah, termasuk detail bailout €500 miliar, kepada Epstein saat krisis finansial 2008.
Transaksi keuangan sebesar $75.000 dari Epstein ke rekening terkait Mandelson antara 2003-2004 memperdalam dugaan hubungan tak pantas.
PM Keir Starmer bisa terancam mundur karena keputusannya menunjuk Mandelson sebagai duta besar meski tahu hubungannya dengan Epstein.
Foto Mandelson dalam keadaan santai di rumah Epstein dan email-email bernada sugestif — seperti balasan “Naughty boy” kepada Epstein — melengkapi potret hubungan yang melampaui batas profesional.
Meski tak ada tuduhan keterlibatan langsung dalam kejahatan seks Epstein, hubungan ini memicu tuduhan pelanggaran tugas publik (misconduct in public office).
Pada Februari 2026, skandal ini mencapai puncaknya.
Polisi Inggris membuka investigasi kriminal terhadap Mandelson, memaksanya mengundurkan diri dari House of Lords dan Partai Buruh.
Tekanan politik memaksa Perdana Menteri Keir Starmer — yang mengakui mengetahui hubungan tersebut saat menunjuk Mandelson sebagai duta besar — untuk menyetujui pengangkatan hakim independen (special master) guna merilis dokumen lengkap tanpa redaksi.
Atmosfer di parlemen digambarkan sebagai “yang paling marah dalam sejarah,” dengan masa depan kepemimpinan Starmer dipertaruhkan.
Media sosial dipenuhi dengan tagar #MandelsonScandal, sementara elit politik Inggris bergulat dengan salah satu skandal terbesar dalam sejarah parlemen modern — yang tidak hanya mengakhiri karir seorang politisi veteran, tetapi juga menguji batas transparansi dan akuntabilitas kekuasaan.
9
Rothschild dan Palantir
Tidak hanya terkait dengan Mossad dan Israel, lebih jauh lagi, Esptein terhubung dengan klan Yahudi terkaya: Rothschild.
Epstein memiliki hubungan dekat dengan Ariane de Rothschild, istri miliarder Evelyn de Rothschild dan CEO Edmond de Rothschild Group, yang sering menjadi perantara dalam peluang bisnis, termasuk saat ia mengirim email ke Peter Thiel.
Kronologi dimulai pada September 2013, ketika Epstein mengundang Ehud Barak (mantan PM Israel) dan Ariane de Rothschild ke dinner di mansion New York-nya untuk membahas potensi kerjasama keuangan. Pada November 2013, Epstein menyampaikan pesan dari de Rothschild ke Barak: “[Ariane de Rothschild] berkata jika Ehud ingin mendapat keuntungan besar, dia harus membangun relasi dengan saya. Kita memerlukan waktu untuk saling mengerti.”
Ehud Barak merespons dengan meminta saran Epstein: “Saya siap, namun butuh nasihatmu, bagaimana caranya? ” dan Epstein membalas: “waktu, perhatian, stabil, ulangi. kapan apa di mana yang terprediksi.”
Hubungan ini berkembang ke upaya Epstein menghubungkan Barak dengan Peter Thiel untuk peluang di sektor teknologi pengawasan .Thiel, co-founder Palantir Technologies. Ia mendirikannya pada tahun 2003 (tepatnya 6 Mei 2003) bersama Alex Karp, Stephen Cohen, Joe Lonsdale, dan Nathan Gettings. Perusahaan ini membantu intelijen AS (dengan dukungan awal dari In-Q-Tel, cabang ventura CIA) dalam analisis data melali teknik pengawasan dan penyadapan. Pendapatannya ahun lalu mencapai sekitar $4.48 miliar (Rp 75 triliun lebih)..
Pada April 2014, Epstein mengemail Barak: “Saya ketemu Peter Thiel tanggal 19 di New York jika kamu mau”.
Barak tertarik dan merespons: “Peter Thiel akan sangat menarik.” Pada Mei 2014, dalam rekaman audio yang dirilis DOJ, Epstein mendorong Barak: “Peter Thiel adalah salah satu yang terbaik … Saya ingin menemuinya dan menemuimu.” Ia menginginkan Thiel menempatkan Barak di board Palantir untuk investasi di startup keamanan seperti Reporty (kemudian Carbyne).
Akhirnya, pada Juni 2014, Barak bertemu Thiel untuk dinner yang diatur Epstein, meski tidak ada bukti kesepakatan bisnis langsung terwujud, menunjukkan upaya Epstein memanfaatkan jaringan Rothschild dan Barak untuk mendekati Thiel dalam konteks geopolitik dan teknologi.
Pada 28 Februari 2016, Epstein beremail ke Thiel dan menyatakan bahwa dirinya adalah perwakilan Rothschild. Ia ingin mengetahui bagaimana sebuah bank yang memegang dana $160 miiar bisa ikut dalam bisnis teknologi. “Apakah Anda ingin bertemu di Saudi akhir bulan ini,” tanya Epstein.
“Jangan di Saudi, saya pikir kita harus menghindari Timur Tengah setidaknya satu dekade ini,” kata Thiel. 
Palantir dikritik karena digunakan Israel untuk memata-matai Palestina dan menyediakan Gotham platform untuk “efficient target management”. Jadi, Palantir ini salah satu teknologi yang dipakai untuk genosida Palestina.
10
Upaya Melindungi Israel
Kentalnya nuansa Israel di lingkungan Epstein berusaha dibelokkan atau disingkirkan oleh banyak pihak terutama kaum Israel First. Mereka mendorong narasi bahwa dokumen Esptein tidak penting, bahkan menuding pihak selain Israel sebagai dalangnya.
Ben Shapiro dalam podcast “The Ben Shapiro Show” 12 Desember 2025, menyatakan: “Realistis saja, Epstein files itu prioritasnya 0% sekarang. Kita punya inflasi 9%, krisis perbatasan, dan the Left (Demokrat) menginginkan kita terobsesi dengan daftar pedofil dari orang yang telah mati?”.
Tidak bisa diharapkan objektivitas dari Ben Shapiro yang merupakan kaum Israel First. Kasus Esptein ini juga menunjukkan peran Israel di latar belakang yang berusaha disembunyikan kaum Israel First.
Warga AS lain yang juga Israel First garis keras, Mark Levin berkata lebih keras: “Republican dengar, jangan buang waktu untuk kasus Epstein. Fokus dengan agenda kita. Ini yang diinginkan deep state: kita mengejar bayangan.”
Levin ini tidak peduli dengan Republican atau AS sebagai bangsa. Israel yang paling utama baginya. Ia menunjukkan kebanggaan yang berlebihan ketika mencengkeram pundak Presiden Trump, seperti seorang bos besar dan menyatakan bahwa Trump adalah Presiden Yahudi yang pertama.
Trump tentu saja orang yang paling berusaha menghindari isu Epstein karena ia termasuk orang yang paling disorot dalam kasus Esptein. Sekitar awal Februari 2026, tepatnya setelah rilis parsial Epstein Files oleh DOJ, dalam post panjang di Truth Social pada Juli 2025, Trump menulis: “Jangan habiskan waktu dan energi untuk Jeffrey Epstein, seseorang yang tidak pantas dipedulikan.”
Ia juga menambahkan bahwa isu ini adalah “Democrat hoax” yang diciptakan untuk menyerangnya, dan menekankan fokus pada agenda pemerintahannya seperti ekonomi daripada “boring stuff” seperti Epstein.
Saat berbicara dengan wartawan pada Juli 2025, Trump mengatakan: “Saya tidak mengerti mengapa kasus Epstein menarik bagi orang lain. Itu hal membosankan.” Dan pada September 2025, ia menambahkan: “Sungguh, saya pikri ini sudah cukup.” Pernyataan ini memicu backlash dari korban dan pendukung MAGA, yang melihatnya sebagai upaya meminimalkan tuntutan keadilan, meskipun Trump sebelumnya berjanji akan merilis file secara penuh.
Narasi alternatif lain datang dari Mike Baker, mantan pejabat CIA. Baker mengklaim bahwa Epstein sebenarnya bekerja untuk dinas intelijen asing seperti China atau Rusia, dan bukan untuk Israel atau AS.
Beberapa kalangan yang menyatakannya sebagai “kebohongan yang bahkan disusun sembarangan dan terkesan menghina”.
Nigel Farage adalah politisi Inggris yang sangat terkenal sebagai salah satu tokoh utama Eurosceptic (anti-Uni Eropa) dan pendukung Brexit. Ia menyatakan bahwa Jeffrey Epstein mungkin bekerja untuk rejim Putin. Farage sering membela Trump dan mengkritik narasi “deep state” atau konspirasi anti-Trump.
Pernyataan ini memicu kontroversi karena bertentangan dengan teori lain yang lebih populer (misalnya kaitan Epstein dengan Mossad/Israel atau elite AS), dan beberapa kritikus menuduhnya sebagai “misdirection” atau upaya membelokkan dari fakta lain dalam file.
Pembelokan lain muncul Piers Morgan, wartawan Inggris yang merupakan pro-Zionis. Dalam “Piers Morgan Uncensored” 10 Januari 2026, dia berspekulasi: “Dari mana uang Epstein berasal? Oligarki Russia? Mungkinkah ini merupakan operasi kompromat Russia?”
Publik secara jelas melihat Piers Morgan berusaha mengalihkan isu dari Mossad ke Moscow.


