Fitch Ratings Turunkan Prospek Indonesia Jadi Negatif
Share
PENUTUR.COM — Lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings, baru saja meniup peluit peringatan bagi perekonomian Indonesia.
Meski masih mempertahankan peringkat utang RI di level BBB (Investment Grade), Fitch resmi merevisi prospek (outlook) Indonesia dari Stabil menjadi Negatif.
Perubahan ini bukanlah sekadar angka, melainkan cerminan pudarnya kepercayaan lembaga internasional terhadap konsistensi kebijakan ekonomi di tengah sentralisasi kekuasaan yang kian menguat.
Fitch menyoroti target pertumbuhan ekonomi 8% yang dipatok Presiden Prabowo Subianto sebagai pisau bermata dua.
Ambisi besar ini, ditambah dengan lonjakan pengeluaran sosial—termasuk program Makanan Bergizi Gratis yang memakan 1,3% PDB—dikhawatirkan akan melonggarkan bauran kebijakan fiskal dan moneter.
“Ada risiko penyimpangan fiskal, terutama dengan rencana percepatan belanja pada awal 2026,” tulis Fitch dalam laporan resminya, Rabu (4/3).
Salah satu pemicu utama kegelisahan Fitch adalah rencana revisi Undang-Undang Keuangan Negara dalam Prolegnas 2026.
Fitch melihat adanya indikasi kuat bahwa pemerintah dan DPR ingin “menjebol” batas defisit anggaran yang selama ini disiplin di angka 3% PDB.
Jika pembatas ini dilepas, Fitch menilai kemampuan Indonesia membiayai defisit tanpa bantuan bank sentral akan sangat diragukan.
Di sisi pendapatan, Fitch memprediksi performa yang masih loyo (rata-rata 13,3% terhadap PDB).
Pembatalan kenaikan PPN dan pengalihan dividen BUMN ke badan baru, Danantara, dianggap menciptakan ketidakpastian.
Danantara sendiri dipandang belum memberikan bukti nyata dalam mendorong investasi, melainkan justru menambah kabur peta pembuatan kebijakan makroekonomi.
Fitch juga mencatat penurunan kualitas tata kelola pemerintahan Indonesia.
Demonstrasi besar pada Agustus-September 2025 menjadi indikator bahwa tensi sosial dapat menjadi tantangan politik bagi stabilitas koalisi yang berkuasa.
Saat ini, skor tata kelola Indonesia berada di persentil ke-44, jauh di bawah median negara-negara berperingkat BBB yang berada di persentil ke-56.
Meski dibayangi sentimen negatif, Indonesia tidak sepenuhnya kehilangan taji. Fitch mengakui pertumbuhan ekonomi RI tetap stabil di angka 5,0%, dua kali lipat lebih tinggi dari median negara selevel.
Permintaan domestik yang kuat, hilirisasi industri, serta investasi dari Danantara diharapkan mampu menjadi bantalan dari lemahnya ekspor neto.
Namun, pesan Fitch sangat jelas: Target 8% hanyalah mimpi tanpa reformasi struktural yang nyata.
Tanpa disiplin fiskal yang ketat, Indonesia berisiko menghadapi tekanan depresiasi rupiah, terkikisnya cadangan eksternal, dan merosotnya kepercayaan investor global.


